5 Elemen Sifat dalam Serial Kera Sakti (Journey To The West)
Entah mengapa sebelum tidur tadi malam, saya tiba-tiba teringat satu serial Televisi yang dulu menemani masa kecil di paruh tahun 90-akhir. Soundtrack serial itu kadang masih melintas di benak.
Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa
Bertindak sesuka hati loncat kesana kesini
Hilangkan semua masalah di muka bumi…”
Begitu kira-kira potongan syairnya, Sountrack serial tersebut cukup melekat karena mungkin dulu pernah menyanyikannya dalam sebuah rap battle waktu persami disekolah.
Serial ini cukup popular di tahun-tahun itu,
diantara salat Magrib dan Isya adalah “waktu emas” untuk menyaksikan serial
kesukaan di Televisi tetangga.
Dulu memang banyak serial TV yang menarik yang menjadi penghiburan kami (saya dan teman-teman) disekitar jam-jam tersebut, walau sebagian teman sudah cukup puber dan memanfaatkan waktu tersebut untuk sekedar bertegur-sapa dengan kekasih pujaan atau lirik-lirikan di sekitar masjid.
Ada hal yang menarik dari serial TV tersebut, yang mungkin baru belakangan ini saya temukan, dan biasanya memang seperti itu : film atau karya sastra butuh waktu, untuk kemudian kita (manusia) menemukan makna dan apa yang ingin disampaikan karya tersebut.
Atau bahkan hanya sekadar asosiasi-asosiasi yang melebar dan meluber ke kiri maupun kekanan, nah untuk Journey To The West atau Kera Sakti saya mencoba mengasosiakannya dengan salah satu Film animasi Disney berjudul “Inside Out” yang tayang tahun 2015. Bercerita tentang seorang anak kecil yang mempunya lima karakter emosi dalam kepalanya yang mencoba saling mendominasi joy (kegembiraan), sadness(kesedihan), disgusted (jijik), angry (Kemarahan), dan fear (takut).
1. Sun Go Kong (Marah)
Si kera liar dan semaunya ini, memang mewakili
banyak karekter dalam diri manusia, terutama egoisme, kesombongan dan keras
kepala dan dari semua sifat itu saya mengasosiasikan Go Kong dengan sifat
“Marah”, bahkan gurunya harus memberikan semacam mahkota untuk mengendalikan
amarah Go Kong, dalam psikologi, marah memang menjadi salah satu sifat manusia,
dan biasanya di simbolkan dengan api atau warna merah.
2. Tie pat Kai (Sedih)
Si Siluman babi yang yang patah hati dulunya adalah
seorang panglima di kerajaan langit bernama panglima Tiang Feng yang jatuh
cinta kepada Cang E si Dewi bulan, namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Pat
kai mewakili “kesedihan”, kesedihan yang mendalam akibat dari perilakunya, dan
itu tergambar di sepanjang perjalanan Pat Kai kerap melantunkan perasaannya
lewat ungkapan “begitulah cinta penderitaan tiada akhir”, kesedihan akibat
ketidakbersamaan dengan sang kekasih, kesedihan biasanya diasosiasikan dengan
warna biru.
3. Wu Ching (takut)
Siluman air ini, adalah adik ketiga, bungsu dari
kedua kakaknya, ia bodoh dan lemah juga rapuh, menurutku ia mewakili
“ketakutan”,ya, ketakutan dalam diri manusia, Begitulah Wu Cing, takut dan
rapuh sepanjang perjalanan. Sifat takut dalam “inside out” di simbolkan
berwarna Ungu.
4. Kuda Putih (jijik)
Selain ketiga muridnya, Biksu Tong juga turut ditemani oleh seekor kuda putih yang sebenarnya adalah raja naga, kuda putih ini menyimbolkan sifat Kejijikan manusia, ini karena kuda ini berwarna putih, kita tahu bahwa putih adalah lambang kesucian, Sifat jijik dalam "inside out" disimbolkan dengan warna hijau.
5. Biksu Tong (kegembiraan/ketenangan)
Biksu yang begitu tawadhu ini membawa
murid-muridnya mencari kitab suci, Biksu Tong melambangkan ketenangan dan
kegembiraan, begitu banyak tantang juga rintangan namun biksu Tong selalu
menghadapinya dengan tenang, pernah ada satu adegan dimana ia digoda oleh
siluman perempuan, tapi ia tetap tegar, dan ketenangan juga kegembiraan sebagai
manusia yang telah "terbebas" itu membawanya sampai ke tujuan.
Kegembiraan dalam animasi “Inside Out” dilambangkan dengan Warna Kuning.
Tong Sam Cong adalah tokoh rekaan dari Xun Zang, seorang biksu yang di takdirkan mencari kitab suci. Berbeda dengan kisah yang diceritakan dalam serial Kera Sakti, Dimana perjalanan biksu itu ditemani para muridnya, dalam perjalan Xun Zang yang sesusungguhnya, ia menempuh perjalanan seorang diri.
Biksu Tong dan kisanya mencari kitab suci tercatat dalam karya sastra kuno berjudul “Catatan Perjalanan ke Barat” yang ditulis Wu Ch’engen (1500-1582), seorang sastrawan masyhur di zaman dinasti Ming (1368-1644).
Kemudian diangkat menjadi serial TV Hongkong yang di bintangi Dicky Cheung, Kwong wah , Weyne Lai dan Evergreen Mak dan ditayangkan oleh TVB, di Indonesia ditayangkan pertama kali di Indosiar.
Kira-kira saya ingin mengatakan begini, dalam perjalanan hidup manusia, keempat sifat tersebut selalu mengiringi kita, senantiasa hadir, kalau dalam serial tersebut tentunya menuju barat.
Perkara kemudian, siapa yang lebih unggul (mendominasi), apakah Biksu Tong, Go Kong, Pat Kay, atau Wu Cing?
Sekian.

Komentar
Posting Komentar