Aku dan Pendekar pemanah rajawali

 



Tahun-tahun membahagiakan dimana akses tontonan belum begitu merata di desa, entah karena pembangunan yang hanya bertumpu di kota saja, atau memang pilihan untuk membeli perangkat elektronik yang menurut sebagian orang di desa adalah privillage.

Juga rententan perisiwa yang menyartainya, serta pengalaman magis berburu tontonan, magis karena itu di peroleh tidak dengan menekan remote control di ruang tengah yang hangat, tapi berhimpitan dan berdesak-desakan di teras rumah tetangga, yang kadang kadang harus di antri dan ketika yang punya rumah kurang begitu mood maka sial-lah hari itu.

pengalaman tontonan saya  memang sepertinya dibentuk seputar serial mandarin yang waktu itu merajai, drama korea blum dikenal kala itu

Jika orang berusia diatas saya menikmati cerita silat dalam bentuk bacaan, seperti wiro sableng atau Kho Ping Hoo, saya jauh dari itu semua malah, mendapat pengalaman audiovisual.

pada kotak tabung yang ukurannya kurang lebih belasan sampai puluhan inci, yang mungkin tak semua bisa pendapatkanya, adapun kalau bisa mengakses dirumah sendiri mungkin itu hanya sebatas siaran TVRI, yang berisi dunia dalam berita dan siaran desa kelompok pencapir, yang setia mengudara dibawah rezim orde baru.

maka parabola adalah impian,  berharap di sudut rumahnya berdiri antena itu, dan karena memang barang yang cukup mahal maka itu hanya di miliki segelintir orang saja.

Dan intimasi terhadap tontonan, begitu melekat  pada pengalaman audivisual saya. seperti biasa dalam menuliskan biodata, ketika masuk kekolom hobbi saya akan menulis dua hal kegemaran saya, membaca dan menonton,

namun karena sepertinya tidak ada akses bacaan yang memadai sewaktu kecil, kecuali beberapa buku pelajaran, juga koran local waktu itu maka pengalaman audio visual lebih mnonjol, bahkan kalau tak mau dikatan menginternalisasi,

mungkin banyak hal yang saya sadari atau tidak dibentuk oleh pengalaman menoton itu, dan salah satunya adalah pendekar pemanah rajawali (the legend of condor heros).

Tokoh utamanya Kwe Ceng seorang pemuda lugu dan lamban tapi beruntung, karena memiliki hampir semua yang dibutuhkan untuk jadi pendekar.

Dibesarkan oleh Jengis Khan sang penakluk, diajarkan memanah oleh jebe, seorang pemanah besar danpemimpin militer mongol,  diajari silat oleh 7 manusia aneh dari jiangnan, beberapa latihan oleh pendeta Tao dari quanzhen, kemudian memperoleh banyak hal dari pengemis utara an cit Kong. Khusunya 18 tapak taklukkan naga dan ilmu kepalan kosong dari Zhou bu tong saudara angkatnya yang terkurung di pulau persik

Keberuntungan keduanya karena terlibat romantisme dengan Huang Rong yang merupakan putri dari salah satu tokoh silat terpeting pada dinasti song si sesat timur.

Mereka berdua melewati berbagai masalah, mengahadapi berbagai tantangan, terutama dilemma saat mempertahanka n negrinta dalam menghadapi invasi bangsa mongol oleh Jengis khan, orang yang sangat berjasa dalam kehidupan Kwee Ceng.

berbeda jauh nasib dari ponakannya yang kelak dinamai pendekar rajawali, yoko selalu mendapat kesulitan dan kesialan, bahkan diakhir cerita lengan Yoko putus dipenggal, satunya keberuntungan nya mungkin hanya bibi lung yg setia di sampingnya. 

Serial ini diproduksi oleh TVB Hongkong, beberapa versi, namun waktu itu sekitar tahun 1995 saya terpesona oleh acting Julian Cheung yang memerankan Kwee Ceng dan Anthena Chu yang memerangkan Oey Yong.

Serial ini diangkat dari bagian pertama Novel Triologi Rajawali ditulis oleh Jin Yong, yang sangat masyahur di daratan Cina. Dan telah diadaptasi ke berbagai medium, Film, Serial, Anime dan Manga.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Elemen Sifat dalam Serial Kera Sakti (Journey To The West)